![]()
Malam ini hujan gerimis tak kunjung reda hawa dingin pun serasa menusuk tulang.Kunikmati segelas teh hangat ditemani sepotong kue sambil menonton televisi.Tiba tiba terdengar suara ketukan pintu.Aku meju ruang tamu untuk membukakan pintu saat kubuka ternyata om Ahmad yang datang.
"Eh,,Om Ahmad.Masuk dulu
"Nggak usah. Om cuma sebentar tolong panggilkan masmu ya.." ucap om sedikt tergesa gesa
"Iya om." kutinggalkan om yang masih ada di ambang pintu
Kemudian mas menghampiri Om Ahmad yang duduk di kursi teras rumah.Mereka spertinya berbincang dengan serius.Hanya sepuluh menit mereka berbincang tak lama kemudian OmAhmad pamit pulang.Mas masuk ke dalam rumah lalu menyuruhku untuk ganti baju karena mas akan mengajakku ke rumah nenek.Aku bergegas ke kamar untuk berganti baju.Selesai ganti baju aku dan Mas berangkat menuju rumah nenek yanghanya berjarak 2 km dari rumahku.
Seampainya di rumah nenek aku terkjut,karena di pagar ada bendera kecil berwarna kuning.Aku bertanya dalam hati siapa yang meninggal.Apa mungkin nenek.Saat aku masuk ke dalam rumah ternyata tak ada jenazah.Aku menuju ruang tengah.Orang orang yang ada di ruang tengah memandangku dengan tatapan aneh ada juga yang matanya berkaca kaca.Kuhampiri nenek.Nenek menatapku dengan mata berkaca kaca kemudian dipeluknya aku dan dibelai juga rambutku.
"Nduk,,yang sabar ya nduk,yang tabah,ini smua sudah takdirNya.Bapakmu telah dipanggil oleh Gusti Pangeran." ucapnya sambil sesenggukkan
Aku terdiam.Kuresapi dalam dalam ucapan nenek tadi.Rasanya pelupuk mataku sudah tak mampu membendung air mata.Mengalirlah air mataku tanpa henti.Aku lemah.Aku rapuh.Kenapa aku tak pernah dpat pemberitahuan bahwa Bapak masuk rumah sakit.Kenapa aku tak di beri kesempatan untuk ada disampingnya saat akhir hayatnya.Jahat sekali meerka.Kenapa Ibu tidak ada disampingku.Kenapa Ibu tak sgera pulang.Aku sangat butuh kau Bu.Ini bagaikan mimpi buruk bagiku.Ya Allah hari apa ini.
Satu jam kemudian mobil ambulance yang membawa jenazah Bapak datang.Semua orang sibuk mempersiapkan prosesi memandikan,mengkafani,dan menyolati.
Aku tetap duduk terdiam dengan air mataku yang terus menetes sambil melihat lalu lalang orang yang bertakziah.Aku tak ingin melihat jenazah Bapak.Aku tak ingin semakin bersedih.Hingga ketiga prosesi itu selesai aku tetap duduk disitu.Berkali kali budhe menyuruhku untuk memberi penghormatan terakhir pada jenazah Bapak.Tapi aku tetap tak bergeming.Waktu sudah menunjukkan pukul o1.oo WIB tapi tak sedikitpun rasa kantuk menyerangku.Hingga pagi datang.
Suara kokok ayam mulai terdengar.Sang fajar mulai tampkkan cahayanya.Aku pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi.Kupandangi wajahku di cermin.Mataku sembab usai menangis semalaman. Kulihat ibu ibu sedang sibuk merangkai bunga di ruang tamu.
Karena sudah waktunya akhirnya jenazah Bapak diberangkatkan ke TPU di desa nenek tanpa menunggu kehadiran Ibu.Keranda itu dipikul oleh adik laki laki Bapak dan juga Mas.
Lantunan tahlil mengiringinya.Aku hanya bisa berucap"Selamat jalan Bapak,,Semoga Engkau bahagia disana dan dapat tempat yang paling agung di sisiNya....."

~Selesai~
Buah karya : Ulfa Faridatun Nisa
(saat) XI BHS 2
